ALBUM ' SERENADE ' 2014
1.
Serenade
Apakah ini nyata
Atau hanya bayangan
Ketika kau turun menemuiku
Kau kibaskan basah rambutmu
Engkaulah gadis yang hadir di mimpiku
Lidahku kelu tercekat
Atau hanya bayangan
Ketika kau turun menemuiku
Kau kibaskan basah rambutmu
Engkaulah gadis yang hadir di mimpiku
Lidahku kelu tercekat
Kuhela nafas dalam
Mengatur debar jantungku
Hanya sepenggal kata yang kutangkap
Ketika kau bicara panjang
Aku hanyut di arus asmara
Rasanya aku tenggelam
Mengatur debar jantungku
Hanya sepenggal kata yang kutangkap
Ketika kau bicara panjang
Aku hanyut di arus asmara
Rasanya aku tenggelam
Semakin jauh bayang senyummu
Tak mampu kubuang
Aku jatuh hati
Saat pertama menatapmu
Tak mampu kubuang
Aku jatuh hati
Saat pertama menatapmu
Mungkinkah samudera
Dapat menolong aku
Mengungkapkan rasa
Cintaku yang membara
Tetapi badai mengingatkanku
Untuk menyerah
Sebab engkau terlalu tinggi untuk kuraih
Sebab engkau
Terlalu jauh untuk kurengkuh
Dapat menolong aku
Mengungkapkan rasa
Cintaku yang membara
Tetapi badai mengingatkanku
Untuk menyerah
Sebab engkau terlalu tinggi untuk kuraih
Sebab engkau
Terlalu jauh untuk kurengkuh
Jakarta, Nov 1979
( Lagu ini lahir, beberapa waktu setelah saya merasakan sesuatu yang tidak biasa, ketika pertama kali bertemu di rumahnya. Saya yakin itulah pertama kalinya dalam hidup, saya jatuh cinta yang sesungguhnya).
( Lagu ini lahir, beberapa waktu setelah saya merasakan sesuatu yang tidak biasa, ketika pertama kali bertemu di rumahnya. Saya yakin itulah pertama kalinya dalam hidup, saya jatuh cinta yang sesungguhnya).
2.
Di Sudut
Rumah-Mu
Disudut rumahMu aku bersujud
Seusai ber keliling tujuh putaran
Tubuhku aku pasrahkan
Jiwaku aku ikhlaskan
Seusai ber keliling tujuh putaran
Tubuhku aku pasrahkan
Jiwaku aku ikhlaskan
Di Multazam aku rentangkan doa
Memohon ampun dari timbunan dosa
Sujudku aku rekatkan
Airmataku tak tertahankan
Dan aku tumpahkan
Memohon ampun dari timbunan dosa
Sujudku aku rekatkan
Airmataku tak tertahankan
Dan aku tumpahkan
Disini, aku merasa lkecil dan tak
berarti
Ya Robbi tunjukkan
Kemana langkah mesti kubawa
Ya Robbi tunjukkan
Kemana langkah mesti kubawa
Disini
Aku merasa tak berdaya
Menunggu uluran tanganMu
Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur
Aku merasa tak berdaya
Menunggu uluran tanganMu
Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur
Tibalah saat aku harus pamit
Kukecup Hajar Aswad dengan hidmat
Dalam doaku semoga seluruh umat
Datang bersujud ke haribaanMu
Dan atas panggilaMu
Kukecup Hajar Aswad dengan hidmat
Dalam doaku semoga seluruh umat
Datang bersujud ke haribaanMu
Dan atas panggilaMu
Disempurnakan - Nov. 2011
3.
Engkaulah
Yang Merebut Hatiku
Engkaulah satu-satunya
Yang merebut hatiku
Meskipun aku tak berani
Kerna aku takut terluka
Yang merebut hatiku
Meskipun aku tak berani
Kerna aku takut terluka
Aku ingin sibakan rambutmu
Dan ku bisikkan cinta
Terpaksa hanya aku simpan
Menjadi bunga di mimpiku
Dan ku bisikkan cinta
Terpaksa hanya aku simpan
Menjadi bunga di mimpiku
Engkau tersenyum
Wangi melati
Akupun tergetar
Inikah pertanda
Engkau tertawa
Aku percaya
Tuhan mengirimkan
Engkau untukku
Wangi melati
Akupun tergetar
Inikah pertanda
Engkau tertawa
Aku percaya
Tuhan mengirimkan
Engkau untukku
Aku beranikan diri
Kupersembahkan setangkai kembang
Aku yakin takdir menolongku
Dan engkau jadi kekasihku
Kupersembahkan setangkai kembang
Aku yakin takdir menolongku
Dan engkau jadi kekasihku
Engkaulah satu-satunya
Yang merebut hatiku
Dan kini engkau satu-satunya
Yang jadi kekasihku
Yang merebut hatiku
Dan kini engkau satu-satunya
Yang jadi kekasihku
Inilah saatnya
Harus ku ungkapkan
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Harus ku ungkapkan
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Jakarta. Feb 1981
( Lagu ini lahir, pada saat saya
telah benar-benar yakin, bahwa dialah satu satunya wanita yang telah merebut
hati saya).
4.
Bila Kita
Ikhlas
Tak selayaknya, kita memaki-maki
Mengumpat dan menggerutu
Hidup serba sulit
Jangan hanya dongak ke Langit
Coba runduk ke Bumi
Tengoklah mereka yang papa
Lebih pantas mengeluh
Mengumpat dan menggerutu
Hidup serba sulit
Jangan hanya dongak ke Langit
Coba runduk ke Bumi
Tengoklah mereka yang papa
Lebih pantas mengeluh
Bila kita ikhlas, Tuhan bakal
memberi
Dialah yang paling mengerti
Apa yang kita perlukan
Jangan terlalu banyak menuntut
Rizki telah dibagi
Pasrahkanlah saja, semua kepadaNya
Dialah yang paling mengerti
Apa yang kita perlukan
Jangan terlalu banyak menuntut
Rizki telah dibagi
Pasrahkanlah saja, semua kepadaNya
Tugas kita masih sangat banyak
Menyelesaikan hidup dengan benar
Tak perlu merampas yang bukan bagian kita
Ikhlas saja
Menyelesaikan hidup dengan benar
Tak perlu merampas yang bukan bagian kita
Ikhlas saja
Bila kita pasrah, tumbuh rasa
damai
Dalam damai kita bertemu bahagia
Dalam damai kita bertemu bahagia
Belajar tersenyum meski hati
menjerit
Tuhan Maha Bijaksana
Dialah yang menentukan
Jangan henti terus melangkah
Mumpung masih punya waktu
Sampai nanti kita menghadap
Telah cukup bekal
Tuhan Maha Bijaksana
Dialah yang menentukan
Jangan henti terus melangkah
Mumpung masih punya waktu
Sampai nanti kita menghadap
Telah cukup bekal
Jakarta, 1984
5.
Gemuruh
Deburan Ombak, Cintaku Untukmu
Sorot matamu teduh memukau dari
balik piano
Rona wajahmu penuh cahaya
Berkilau bak pualam
Rona wajahmu penuh cahaya
Berkilau bak pualam
Saat engkau menatapku
Akupun jatuh cinta
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Akupun jatuh cinta
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Desau angin me nari-nari
Menelusuri nada-nada
Dentingnya menembus keheningan
Simphony pepohonan
Menelusuri nada-nada
Dentingnya menembus keheningan
Simphony pepohonan
Burung-burung pun turut bernyanyi
Senandung bunga hati
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Senandung bunga hati
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Inilah saatnya, harus ku ungkapkan
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Saat engkau tersenyum
Aku terbang melayang
Gemuruh di dalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Aku terbang melayang
Gemuruh di dalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Jakarta, Mei 1980
( Lagu ini lahir, ketika saya
mendadak berkunjung ke rumahnya, ia tengah bermain piano, sekilas ia tengadah
menatap saya, maka seketika jiwa terasa terbang melayang).
6.
Maka
Rekatlah Cinta Kita
Setiap pagi aku kecup
Cahaya lembut di keningmu
Kau tengadah menatapku
Maka rekatlah cinta kita
Cahaya lembut di keningmu
Kau tengadah menatapku
Maka rekatlah cinta kita
Lihat anak-anak kita
Mereka semua tertawa
Menganggap kita seperti anak remaja
Tapi aku tak peduli
Sebab cinta itu perlu
Selalu segar sepanjang waktu
Mereka semua tertawa
Menganggap kita seperti anak remaja
Tapi aku tak peduli
Sebab cinta itu perlu
Selalu segar sepanjang waktu
Dan engkaulah permaisuriku
Pendamping hidup sepanjang hayat
Tak pernah letih
Tak pernah bosan
Menyulam surga cinta kita
Pendamping hidup sepanjang hayat
Tak pernah letih
Tak pernah bosan
Menyulam surga cinta kita
Lihat anak-anak kita
Mulai beranjak dewasa
Menunggu di depan pintu
Lorong kebahagiaan
Mari sembahyang bersama
Lantas berdoa bersama
Karena Tuhan
Maha menjaga
Mulai beranjak dewasa
Menunggu di depan pintu
Lorong kebahagiaan
Mari sembahyang bersama
Lantas berdoa bersama
Karena Tuhan
Maha menjaga
Kita dua, mesti jadi satu
Jalanan kedepan banyak guncangan
Kita jua yang harus menjaga
Tumbuh kebahagiaan tegak menjulang
Jalanan kedepan banyak guncangan
Kita jua yang harus menjaga
Tumbuh kebahagiaan tegak menjulang
Mari bersumpah saling setia
selamanya
Tuhan melihat, percayalah sepenuhnya
Mari bersumpah saling jaga selamanya
Tuhan mendengar, yakinilah sepenuhnya
Tuhan melihat, percayalah sepenuhnya
Mari bersumpah saling jaga selamanya
Tuhan mendengar, yakinilah sepenuhnya
Utk Istri tercinta- 4 Feb. 2007
(Lagu ini lahir, pada saat ulang tahun pernikahan kami yang ke 25. Ritual pagi saya adalah mencium keningnya, untuk memperbaharui sel-sel cinta kasih kami.)
(Lagu ini lahir, pada saat ulang tahun pernikahan kami yang ke 25. Ritual pagi saya adalah mencium keningnya, untuk memperbaharui sel-sel cinta kasih kami.)
7.
Tuhan Tak
Pernah Henti
Menjeritlah, menjeritlah
Lampiaskan semua galau di dada
Berteriaklah, berteriaklah
Selagi kita masih boleh bicara
Lampiaskan semua galau di dada
Berteriaklah, berteriaklah
Selagi kita masih boleh bicara
Hentikanlah, hentikanlah
Semua perilaku kita yang kotor
Bergegaslah, bergegaslah
Mumpung mentari masih belum tenggelam
Semua perilaku kita yang kotor
Bergegaslah, bergegaslah
Mumpung mentari masih belum tenggelam
Tuhan tak pernah henti
Mengamati kita sepanjang waktu
Bersatulah kita bersatu
Tumpahkan air mata
Membasuh langit kelabu
Mengamati kita sepanjang waktu
Bersatulah kita bersatu
Tumpahkan air mata
Membasuh langit kelabu
Berdzikirlah, berdzikirlah
Lampiaskan doa sembari sujud
Istighfarlah, istighfarlah
Berserah ikhlas jiwa dan raga
Lampiaskan doa sembari sujud
Istighfarlah, istighfarlah
Berserah ikhlas jiwa dan raga
Kita mesti bangkit
Menyongsong esok hari
Kubur kedzaliman
Kubur keserakahan
Dan kebencian
Kubur dallam-dalam
Menyongsong esok hari
Kubur kedzaliman
Kubur keserakahan
Dan kebencian
Kubur dallam-dalam
Berdzikirlah
Agar kita tak hanya meminta
Tapi lupa memberi
Berdzikirlah
Agar kita tak hanya bicara
Tapi lupa berbuat
Istghfarlah, memohon lepaskan himpitan
Dan memulai langkah dengan tegar
Dengan tawakal
Dengan tawakal
Agar kita tak hanya meminta
Tapi lupa memberi
Berdzikirlah
Agar kita tak hanya bicara
Tapi lupa berbuat
Istghfarlah, memohon lepaskan himpitan
Dan memulai langkah dengan tegar
Dengan tawakal
Dengan tawakal
Percayalah Tuhan tak pernah henti
Mengamati kita sepanjang waktu
Mengamati kita sepanjang waktu
Jakarta. 1998
8.
Tanah Air
Mata
Ketika dahan dan ranting terhempas
Menyelinap seberkas cahaya
Mendung gelap masih menyelimuti
Seluruh gugusan negeri ini
Menyelinap seberkas cahaya
Mendung gelap masih menyelimuti
Seluruh gugusan negeri ini
Maka merenunglah
Bersama kita memulai berbenah diri Jelajahi ruang keheningan
Mengajari kita menjadi manusia
Bersama kita memulai berbenah diri Jelajahi ruang keheningan
Mengajari kita menjadi manusia
Ketika daun kering mulai luruh
Bergetarlah jagat di sekeliling
Satwa liar terusik berhamburan
Bayang mentari letih mengintai
Bergetarlah jagat di sekeliling
Satwa liar terusik berhamburan
Bayang mentari letih mengintai
Maka menangislah
Hidup terkadang seperti mata belati
Menyayat ke semua arah
Mengajari kita untuk bijak memilih
Hidup terkadang seperti mata belati
Menyayat ke semua arah
Mengajari kita untuk bijak memilih
Mengapa kita saling melukai
Sedang seharusnya menyatukan hati
Mengapa kita saling berkelahi
Sedang semestinya bersatu
Menyongsong esok hari
Sedang seharusnya menyatukan hati
Mengapa kita saling berkelahi
Sedang semestinya bersatu
Menyongsong esok hari
Percayalah tak ada badai yang
kekal
Satu saat pastilah berhenti
Air mata dari jiwa yang tulus
Menembus samudera keabadian
Satu saat pastilah berhenti
Air mata dari jiwa yang tulus
Menembus samudera keabadian
Maka segeralah, memohon ampun
Selagi masih punya waktu
Mungkin alam tengah mencoba
Mengajari kita, Menjadi manusia
Sesungguhnya manusia
Jadilah manusia
Sesungguhnya manusia
Selagi masih punya waktu
Mungkin alam tengah mencoba
Mengajari kita, Menjadi manusia
Sesungguhnya manusia
Jadilah manusia
Sesungguhnya manusia
Jakarta, 1998
9.
Menjadi
Bara Kebersamaan
Mari kita coba hitung
Seberapa sisa waktu
Masih sempatkah kita berkumpul
Untuk bernyanyi bersama
Seberapa sisa waktu
Masih sempatkah kita berkumpul
Untuk bernyanyi bersama
Entah datang dari belahan mana
Engkau, aku siapa saja
Tautkan hati melingkar jadi satu
Lantas bernyanyi bersama
Engkau, aku siapa saja
Tautkan hati melingkar jadi satu
Lantas bernyanyi bersama
Kita tengadah
Dan tenggelam dalam doa
Lewat nyanyian yang syahdu
Buka mata hati
Hirup kebersamaan
Nyalakan jiwa persaudaraan
Dan tenggelam dalam doa
Lewat nyanyian yang syahdu
Buka mata hati
Hirup kebersamaan
Nyalakan jiwa persaudaraan
Kita pasti akan saling merapat
Setelah itu biarkan rindu kita simpan
Menjadi bara kebersamaan
Persaudaraan
Setelah itu biarkan rindu kita simpan
Menjadi bara kebersamaan
Persaudaraan
Mari kita coba hitung
Seberapa banyak waktu
Yang kita buang untuk bertikai
Hentikanlah dengan damai
Seberapa banyak waktu
Yang kita buang untuk bertikai
Hentikanlah dengan damai
Jakarta.
2013

