Pages

Rabu, 20 Agustus 2014

ALBUM SERENADE EBIET G. ADE


ALBUM ' SERENADE ' 2014



1.    Serenade
Apakah ini nyata
Atau hanya bayangan
Ketika kau turun menemuiku
Kau kibaskan basah rambutmu
Engkaulah gadis yang hadir di mimpiku
Lidahku kelu tercekat
Kuhela nafas dalam
Mengatur debar jantungku
Hanya sepenggal kata yang kutangkap
Ketika kau bicara panjang
Aku hanyut di arus asmara
Rasanya aku tenggelam
Semakin jauh bayang senyummu
Tak mampu kubuang
Aku jatuh hati
Saat pertama menatapmu
Mungkinkah samudera
Dapat menolong aku
Mengungkapkan rasa
Cintaku yang membara
Tetapi badai mengingatkanku
Untuk menyerah
Sebab engkau terlalu tinggi untuk kuraih
Sebab engkau 
Terlalu jauh untuk kurengkuh
Jakarta, Nov 1979
( Lagu ini lahir, beberapa waktu setelah saya merasakan sesuatu yang tidak biasa, ketika pertama kali bertemu di rumahnya. Saya yakin itulah pertama kalinya dalam hidup, saya jatuh cinta yang sesungguhnya).


2.    Di Sudut Rumah-Mu
Disudut rumahMu aku bersujud
Seusai ber keliling tujuh putaran
Tubuhku aku pasrahkan
Jiwaku aku ikhlaskan
Di Multazam aku rentangkan doa
Memohon ampun dari timbunan dosa
Sujudku aku rekatkan
Airmataku tak tertahankan
Dan aku tumpahkan
Disini, aku merasa lkecil dan tak berarti
Ya Robbi tunjukkan
Kemana langkah mesti kubawa
Disini
Aku merasa tak berdaya
Menunggu uluran tanganMu
Melepaskan aku dari kesombongan dan takabur
Tibalah saat aku harus pamit
Kukecup Hajar Aswad dengan hidmat
Dalam doaku semoga seluruh umat
Datang bersujud ke haribaanMu
Dan atas panggilaMu
Disempurnakan - Nov. 2011


3.    Engkaulah Yang Merebut Hatiku
Engkaulah satu-satunya
Yang merebut hatiku
Meskipun aku tak berani
Kerna aku takut terluka
Aku ingin sibakan rambutmu
Dan ku bisikkan cinta
Terpaksa hanya aku simpan
Menjadi bunga di mimpiku
Engkau tersenyum
Wangi melati
Akupun tergetar
Inikah pertanda
Engkau tertawa
Aku percaya
Tuhan mengirimkan 
Engkau untukku
Aku beranikan diri
Kupersembahkan setangkai kembang
Aku yakin takdir menolongku
Dan engkau jadi kekasihku
Engkaulah satu-satunya
Yang merebut hatiku
Dan kini engkau satu-satunya
Yang jadi kekasihku
Inilah saatnya
Harus ku ungkapkan
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Jakarta. Feb 1981
( Lagu ini lahir, pada saat saya telah benar-benar yakin, bahwa dialah satu satunya wanita yang telah merebut hati saya).


4.    Bila Kita Ikhlas
Tak selayaknya, kita memaki-maki
Mengumpat dan menggerutu 
Hidup serba sulit 
Jangan hanya dongak ke Langit 
Coba runduk ke Bumi
Tengoklah mereka yang papa
Lebih pantas mengeluh
Bila kita ikhlas, Tuhan bakal memberi 
Dialah yang paling mengerti 
Apa yang kita perlukan 
Jangan terlalu banyak menuntut 
Rizki telah dibagi
Pasrahkanlah saja, semua kepadaNya
Tugas kita masih sangat banyak 
Menyelesaikan hidup dengan benar
Tak perlu merampas yang bukan bagian kita 
Ikhlas saja
Bila kita pasrah, tumbuh rasa damai
Dalam damai kita bertemu bahagia
Belajar tersenyum meski hati menjerit 
Tuhan Maha Bijaksana
Dialah yang menentukan 
Jangan henti terus melangkah 
Mumpung masih punya waktu 
Sampai nanti kita menghadap
Telah cukup bekal
Jakarta, 1984


5.    Gemuruh Deburan Ombak, Cintaku Untukmu
Sorot matamu teduh memukau dari balik piano
Rona wajahmu penuh cahaya 
Berkilau bak pualam
Saat engkau menatapku
Akupun jatuh cinta
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Desau angin me nari-nari
Menelusuri nada-nada
Dentingnya menembus keheningan
Simphony pepohonan
Burung-burung pun turut bernyanyi
Senandung bunga hati
Gemuruh didalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Inilah saatnya, harus ku ungkapkan 
Gejolak di dadaku yang tak terbendung
Saat engkau tersenyum 
Aku terbang melayang
Gemuruh di dalam dadaku
Seperti deburan ombak
Cintaku hanya untukmu
Jakarta, Mei 1980
( Lagu ini lahir, ketika saya mendadak berkunjung ke rumahnya, ia tengah bermain piano, sekilas ia tengadah menatap saya, maka seketika jiwa terasa terbang melayang).


6.    Maka Rekatlah Cinta Kita
Setiap pagi aku kecup
Cahaya lembut di keningmu
Kau tengadah menatapku 
Maka rekatlah cinta kita
Lihat anak-anak kita 
Mereka semua tertawa
Menganggap kita seperti anak remaja
Tapi aku tak peduli 
Sebab cinta itu perlu 
Selalu segar sepanjang waktu
Dan engkaulah permaisuriku
Pendamping hidup sepanjang hayat
Tak pernah letih
Tak pernah bosan
Menyulam surga cinta kita
Lihat anak-anak kita
Mulai beranjak dewasa
Menunggu di depan pintu
Lorong kebahagiaan
Mari sembahyang bersama
Lantas berdoa bersama
Karena Tuhan
Maha menjaga
Kita dua, mesti jadi satu
Jalanan kedepan banyak guncangan
Kita jua yang harus menjaga
Tumbuh kebahagiaan tegak menjulang
Mari bersumpah saling setia selamanya
Tuhan melihat, percayalah sepenuhnya
Mari bersumpah saling jaga selamanya 
Tuhan mendengar, yakinilah sepenuhnya
Utk Istri tercinta- 4 Feb. 2007
(Lagu ini lahir, pada saat ulang tahun pernikahan kami yang ke 25. Ritual pagi saya adalah mencium keningnya, untuk memperbaharui sel-sel cinta kasih kami.)


7.    Tuhan Tak Pernah Henti
Menjeritlah, menjeritlah
Lampiaskan semua galau di dada 
Berteriaklah, berteriaklah
Selagi kita masih boleh bicara
Hentikanlah, hentikanlah
Semua perilaku kita yang kotor 
Bergegaslah, bergegaslah
Mumpung mentari masih belum tenggelam
Tuhan tak pernah henti 
Mengamati kita sepanjang waktu 
Bersatulah kita bersatu 
Tumpahkan air mata 
Membasuh langit kelabu
Berdzikirlah, berdzikirlah
Lampiaskan doa sembari sujud 
Istighfarlah, istighfarlah
Berserah ikhlas jiwa dan raga
Kita mesti bangkit 
Menyongsong esok hari 
Kubur kedzaliman
Kubur keserakahan 
Dan kebencian 
Kubur dallam-dalam
Berdzikirlah 
Agar kita tak hanya meminta 
Tapi lupa memberi 
Berdzikirlah 
Agar kita tak hanya bicara 
Tapi lupa berbuat 
Istghfarlah, memohon lepaskan himpitan
Dan memulai langkah dengan tegar
Dengan tawakal 
Dengan tawakal
Percayalah Tuhan tak pernah henti 
Mengamati kita sepanjang waktu
Jakarta. 1998


8.    Tanah Air Mata
Ketika dahan dan ranting terhempas
Menyelinap seberkas cahaya 
Mendung gelap masih menyelimuti 
Seluruh gugusan negeri ini
Maka merenunglah
Bersama kita memulai berbenah diri Jelajahi ruang keheningan 
Mengajari kita menjadi manusia
Ketika daun kering mulai luruh
Bergetarlah jagat di sekeliling 
Satwa liar terusik berhamburan 
Bayang mentari letih mengintai
Maka menangislah 
Hidup terkadang seperti mata belati 
Menyayat ke semua arah
Mengajari kita untuk bijak memilih
Mengapa kita saling melukai 
Sedang seharusnya menyatukan hati 
Mengapa kita saling berkelahi 
Sedang semestinya bersatu
Menyongsong esok hari
Percayalah tak ada badai yang kekal
Satu saat pastilah berhenti 
Air mata dari jiwa yang tulus 
Menembus samudera keabadian
Maka segeralah, memohon ampun 
Selagi masih punya waktu 
Mungkin alam tengah mencoba 
Mengajari kita, Menjadi manusia 
Sesungguhnya manusia 
Jadilah manusia 
Sesungguhnya manusia
Jakarta, 1998


9.    Menjadi Bara Kebersamaan
Mari kita coba hitung 
Seberapa sisa waktu 
Masih sempatkah kita berkumpul 
Untuk bernyanyi bersama
Entah datang dari belahan mana 
Engkau, aku siapa saja 
Tautkan hati melingkar jadi satu 
Lantas bernyanyi bersama
Kita tengadah 
Dan tenggelam dalam doa 
Lewat nyanyian yang syahdu
Buka mata hati 
Hirup kebersamaan 
Nyalakan jiwa persaudaraan
Kita pasti akan saling merapat 
Setelah itu biarkan rindu kita simpan 
Menjadi bara kebersamaan 
Persaudaraan
Mari kita coba hitung 
Seberapa banyak waktu 
Yang kita buang untuk bertikai
Hentikanlah dengan damai
Jakarta. 2013